Ada 2 kasus menarik yang pernah saya dapatkan sejak tahun lalu:
Pertama, seorang ibu, dengan penyakit asma yang sering kambuh, sudah sering berobat dan setiap obat habis langsung kambuh. Saya lihat obatnya, ternyata obat asma yang bagus, tapi mahal.
"Saya guru SMP dengan gaji 1,5 juta sebulan, dok. Dokter langganan saya dulu tiap nebus obat untuk 10 hari minimal 250 ribu, jadi hampir 800 ribu gaji saya habis untuk istri saya ini." Kata suaminya memelas. Akhirnya semua resep asma yang ada di resep itu saya ganti generik, dan hanya mengeluarkan uang 80.000 untuk obat 2 minggu.
Sekarang sudah 1 tahun, si ibu jarang sekali kumat asmanya, paling 2 bulan 1 kali dia kontrol kalau habis kena hujan. "Mungkin saya sembuh karena tidak stress memikirkan besarnya biaya obat. Dan sisa uang gaji suami saya masih ada buat belanja." Katanya bahagia.
Kasus kedua, seorang bapak, sakit gastritis kronis dan darah tinggi. Berobat ke saya, lalu karena dia berasal dari daerah yang jauh dari kota dan (maaf) berpakaian seadanya, saya berikan resep generik. Dua hari kemudian dia datang lagi dengan keluhan masih banyak. Lalu diperiksa lengkap darah, urin, USG dan rontgen, semua normal.
Akhirnya sia anak membisikkan pada saya," Dok, bapak saya gak suka obat generik, dia yakin obat generik itu isinya gak bener!" Oh, i see. Lalu semua obat gastritis dan hipertensinya saya ganti nama obat paten, total si bapak harus bayar 700 ribu untuk obat 2 minggu.
Dua minggu kemudian dia kontrol lagi sudah jalan dengan gagah dan senyum senang.
" Nah, begitu, dok. OMakan obat yang dokter resepkan terakhir, semua keluhan saya hilang."
Padahal obat yang saya beri terakhir isinya sama persis dengan obat generik yang dulu saya resepin, hanya beda merek saja. Rupanya untuk kasus ini si bapak tersinggung diberi obat murah.
Jadi, manusia memang mahluk unik, tidak bisa mengobati penyakitnya saja, juga harus pertimbangkan sosialekonominya dan harga dirinya.
Kamis, 04 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar