Selasa, 09 September 2008
Antara manusia, mobil, dokter dan montir
Dokter bukan Montir!
Tapi ada kemiripan antara manusia dan mobil juga para juru perbaikannya. Manusia yang masih muda dan sehat ibarat mobil baru, tetap harus diservis, di-check-up walau tidak sakit/ mogok.
Manusia yang sudah sepuh dan mobil antik perawatannya harus hati-hati, dan onderdilnya sudah mulai banyak rusak, jika sudah dirawat/ masuk bengkel pasti biayanya besar.
Dokter dan montir mendengar suara/ merasakan getaran jantung/roda/mesin orang muda/mobil baru, pasti cepat mengetahui dimana sakit/ kerusakan mesinnya. Tapi kalau manusia sepuh/ mobil tua, harus lebih lama memeriksa dan biaya pemeriksaan besar/ harus turun mesin dulu baru didapat kesimpulan dan tindakan mengatasinya.
Keluarga pasien tua terkadang sudah mengerti obat/ gejala penyakit si pasien karena sudah lama terlibat dalam kondisi sakit kronisnya. Pemilik mobil tua/antik sebagian besar sudah tahu kerewelan mesin mobilnya. Baru jika keluhannya luar biasa dan tidak dapat teratasi cara biasa, mereka ke rumah sakit/bengkel.
Mirip, kan? Tapi mobil tak punya perasaan. Diservis di bengkel kampung atau bengkel modern dia tidak masalah, yang penting montirnya ahli. Manusia tertentu tambah sakit dibawa ke dokter/ tempat pengobatan yang baginya tidak sesuai seleranya. Manusia terkadang fanatik dokter tertentu dan tidak mau dijamah/diperiksa dokter lain, tapi mobil tak masalah siapa pun montirnya.
Dokter yang baik harus mengkondisikan satu manusia dengan satu keadaan yang unik, tidak dianggap sakit yang sama pada manusia yang berbeda, obat dan perlakuannya sama. Bahkan pada satu orang pun dengan penyakit yang sama, pada waktu yang berbeda, pendekatannya tidak harus sama. Montir dapat memperlakukan mobil satu merk dengan kerusakan yang sama dengan cara yang sama sesuai petunjuk modulnya.
Ada kemiripan, tapi tetap keduanya tidak sama. Namun yang bikin sulit takala dokter menganggap dirinya montirnya manusia, rumah sakit menganggap dirinya bengkel manusia dan pasien mengharapkan dokter bekerja pakai modul ala montir mobil.
Kamis, 04 September 2008
Pengobatan yang psikoekonomis
Pertama, seorang ibu, dengan penyakit asma yang sering kambuh, sudah sering berobat dan setiap obat habis langsung kambuh. Saya lihat obatnya, ternyata obat asma yang bagus, tapi mahal.
"Saya guru SMP dengan gaji 1,5 juta sebulan, dok. Dokter langganan saya dulu tiap nebus obat untuk 10 hari minimal 250 ribu, jadi hampir 800 ribu gaji saya habis untuk istri saya ini." Kata suaminya memelas. Akhirnya semua resep asma yang ada di resep itu saya ganti generik, dan hanya mengeluarkan uang 80.000 untuk obat 2 minggu.
Sekarang sudah 1 tahun, si ibu jarang sekali kumat asmanya, paling 2 bulan 1 kali dia kontrol kalau habis kena hujan. "Mungkin saya sembuh karena tidak stress memikirkan besarnya biaya obat. Dan sisa uang gaji suami saya masih ada buat belanja." Katanya bahagia.
Kasus kedua, seorang bapak, sakit gastritis kronis dan darah tinggi. Berobat ke saya, lalu karena dia berasal dari daerah yang jauh dari kota dan (maaf) berpakaian seadanya, saya berikan resep generik. Dua hari kemudian dia datang lagi dengan keluhan masih banyak. Lalu diperiksa lengkap darah, urin, USG dan rontgen, semua normal.
Akhirnya sia anak membisikkan pada saya," Dok, bapak saya gak suka obat generik, dia yakin obat generik itu isinya gak bener!" Oh, i see. Lalu semua obat gastritis dan hipertensinya saya ganti nama obat paten, total si bapak harus bayar 700 ribu untuk obat 2 minggu.
Dua minggu kemudian dia kontrol lagi sudah jalan dengan gagah dan senyum senang.
" Nah, begitu, dok. OMakan obat yang dokter resepkan terakhir, semua keluhan saya hilang."
Padahal obat yang saya beri terakhir isinya sama persis dengan obat generik yang dulu saya resepin, hanya beda merek saja. Rupanya untuk kasus ini si bapak tersinggung diberi obat murah.
Jadi, manusia memang mahluk unik, tidak bisa mengobati penyakitnya saja, juga harus pertimbangkan sosialekonominya dan harga dirinya.
Selasa, 02 September 2008
Tragedi ekploitasi alam negeri gemah ripah
Saat kesepakatan gas alam yang lalu dipublikasi
Ada yang bilang ini penyelamatan uang negara, ada yang bilang politisasi
Ada yang mengumpan, ada menangkis, ada yang manas-manasi
Bahkan ada yang mengancam semua kerjasama lawan akan diungkapkan
Kalau masalah gas alam ini terus-menerus digembar-gemborkan
Tim pencari fakta, tim pembela fakta, tim fatamorgana disiapkan
Dan kedua kubu siap berdebat habis menjaga tingkat kepercayaan
Andaikan kedua kubu sejenak diam menenangkan diri
Mari benahi satu-persatu kerjasama gak normal di semua lini
Jangan hanya fokus ke 2 masa kepemimpinan ini
Kasih contoh dulu perbaiki kerjasama timpang saat keduanya belum jadi
Nun di timur sana
Beberapa gunung berisi emas, perak berjuta ton kandungannya
Telah terkeruk jadi lembah yang kosong melompong isinya
Dan hasilnya mengeyangkan paman sam sana
Sementara si empunya gunung masih pakai koteka
Adakah yang memikirkan kontrak sosial bagi si pengguna koteka?
Tak akan sampai pikiran kubu yang bertengkar ke sana
Karena kontrak paman sam dengan masyarakat merana
Memang tragis dan tidak berkeadilan jiwa
Namun tak menarik untuk dibentuk tim pencari fakta segala
Karena tidak berpengaruh untuk menaikkan persentase suara mereka
Tragedi ekploitasi alam negeri gemah ripah
Saat kesepakatan gas alam yang lalu dipublikasi
Ada yang bilang ini penyelamatan uang negara, ada yang bilang politisasi
Ada yang mengumpan, ada menangkis, ada yang manas-manasi
Bahkan ada yang mengancam semua kerjasama lawan akan diungkapkan
Kalau masalah gas alam ini terus-menerus digembar-gemborkan
Tim pencari fakta, tim pembela fakta, tim fatamorgana disiapkan
Dan kedua kubu siap berdebat habis menjaga tingkat kepercayaan
Andaikan kedua kubu sejenak diam menenangkan diri
Mari benahi satu-persatu kerjasama gak normal di semua lini
Jangan hanya fokus ke 2 masa kepemimpinan ini
Kasih contoh dulu perbaiki kerjasama timpang saat keduanya belum jadi
Nun di timur sana
Beberapa gunung berisi emas, perak berjuta ton kandungannya
Telah terkeruk jadi lembah yang kosong melompong isinya
Dan hasilnya mengeyangkan paman sam sana
Sementara si empunya gunung masih pakai koteka
Adakah yang memikirkan kontrak sosial bagi si pengguna koteka?
Tak akan sampai pikiran kubu yang bertengkar ke sana
Karena kontrak paman sam dengan masyarakat merana
Memang tragis dan tidak berkeadilan jiwa
Namun tak menarik untuk dibentuk tim pencari fakta segala
Karena tidak berpengaruh untuk menaikkan persentase suara mereka
Tragedi ekploitasi alam negeri gemah ripah
Saat kesepakan gas alam yang lalu dipublikasi
Ada yang bilang ini penyelamatan, ada yang bilang politisasi
Ada yang mengumpan, ada menangkis, ada yang manas-manasi
Bahkan ada yang mengancam semua kerjasama lawan akan diungkapkan
Kalau masalah gas alam ini terus-menerus digembar-gemborkan
Tim pencari fakta, tim pembela fakta, tim fatamorgana disiapkan
Dan kedua kubu siap berdebat habis menjaga kepercayaan
Andaikan kedua kubu sejenak diam menenangkan diri
Mari benahi satu-persatu kerjasama gak normal semua lini
Jangan hanya fokus ke 2 masa kepemimpinan ini
Kasih contoh perbaiki dulu kerjasama timpang saat keduanya belum jadi
Nun di timur sana
Beberapa gunung berisi emas, perak berjuta ton kandungannya
Telah terkeruk jadi lembah yang kosong melompong isinya
Dan hasilnya mengeyangkan paman sam sana
Sementara si empunya gunung masih pakai koteka
Adakah yang memikirkan kontrak sosial bagi mereka?
Tak akan sampai pikiran ke sana
Karena kontrak paman sam dengan masyarakat merana
Memang tragis dan tidak berkeadilan jiwa
Namun tak menarik untuk dibentuk tim pencari fakta segala
Karena tidak berpengaruh untuk menaikkan persentase suara
Pasien kelas 3 dilap/ dibersihkan perawat D3?
Pernah seorang keluarga pasien dari kelas 1 bertanya heran:
"Itu pasien kelas 3 kok dilap oleh perawat tamatan akper?"
"Oh, karena pasiennya tidak bisa bergerak, lemah dan umur tua.." Jawab kami.
" Saya tahu pasien itu tidak bisa bergerak, tapi maksud saya, kenapa pelayanannya sama seperti ayah kami di kelas 1?" Tanyanya heran.
" Oh, memang pelayanan semua sama, fasilitas ruangan saja beda. Kelas 1 seruangan 2 orang dan ada AC, klas 3 seruangan 6 orang, hanya kipas angin." Jawab kami.
" Kalau begitu, harusnya kami dapat pelayanan lebih, dong dari klas 3. Di rumah sakit lain kelas 3 kayaknya tidak sebagus disini deh. Jadi kalau kelas 3 saja baik, maka kelas 1 pelayanannya harus lebih dari baik." Katanyanya iseng cengengesan.
"Ibu, pelayanan kami standar ke semua pasien. Kalau ada rumah sakit yang membedakan perlakuan pada kelas 1 dan 3, itu bukannya kelas 1 perlakuannya dilebihkan, tetapi klas 3 yang standar perlakuannya direndahkan. Tetapi kami yakin, rumah sakit yang baik tidak membedakan perlakuan/ pelayanan kelas apapun, yang dibedakan hanya fasilitas ruangan saja." Jawab kami ramah, sambil membathin: Adakah batas kepuasan manusia? Ada orang lain diperlakukan baik pun dia tak terima, hanya karena yang lain membayar lebih murah.
