Minggu, 31 Agustus 2008

Kutahan

Kutahan umpat dan cela
Kuubah salam dan senyum manis ceria
Itu mudah

Kutahan nafsu liarku
Jelalatan mata tertahan dulu
Pikiran kotor difreezer beku
Itu sih sudah tentu

Tapi ini bagian sulitnya
Menahan daftar menu saat buka
Menahan berlebihan buat sahurnya
Dan mengalokasikan penghematan uangnya
Untuk berbagi pada duafa

Kutahan marah, umpat dan nafsu
Tahun-tahun lalu sukses selalu
Kan kutahan tahun ini alokasi pengeluaran makananku
Supaya tahun ini ada sesuatu yang sukses baru

Kutahan

Kutahan umpat dan cela
Kuubah salam dan senyum manis ceria
Itu mudah

Kutahan nafsu liarku
Jelalatan mata tertahan dulu
Pikiran kotor difreezer beku
Itu sih sudah tentu

Tapi ini bagian sulitnya
Menahan daftar menu saat buka
Menahan berlebihan buat sahurnya
Dan mengalokasikan penghematan uangnya
Untuk berbagi pada duafa

Kutahan marah, umpat dan nafsu
Tahun-tahun lalu sukses selalu
Kan kutahan tahun ini alokasi pengeluaran makananku
Supaya tahun ini ada sesuatu yang sukses baru

Kutahan

Kutahan umpat dan cela
Kuubah salam dan senyum manis ceria
Itu mudah

Kutahan nafsu liarku
Jelalatan mata tertahan dulu
Pikiran kotor difreezer beku
Itu sih sudah tentu

Tapi ini bagian sulitnya
Menahan daftar menu saat buka
Menahan berlebihan buat sahurnya
Dan mengalokasikan penghematan uangnya
Untuk berbagi pada duafa

Kutahan marah, umpat dan nafsu
Tahun-tahun lalu sukses selalu
Kan kutahan tahun ini alokasi pengeluaran makananku
Supaya tahun ini ada sesuatu yang sukses baru

Jumat, 29 Agustus 2008

Antara kampanye , pesta rakyat dan hutang rakyat

Ketika para kandidat bertarung
Program kerja 100 hari hebat mereka usung
Tanpa dangdut, tanpa bagi kaus, tanpa uang masuk kantung
Apa mungkin ada suara ke kandidat itu tuk dihitung?

Namun jika ada goyang pinggul menggoda
Bagi sembako, bagi rompi, bagi rupiah tumpah ruah
Walau tanpa visi, tanpa misi, tanpa program kerja
Rakyat pasti kasih kandidat suaranya pasrah

Ini kampanye memang pesta rakyat
Mereka dikumpul, dimanja, dikasih nikmat
Dielus-elus, dikipas-kipas, lalu diikat
Agar tak lupa saatnya nanti coblos foto sang kandidat

Tapi tak kan cuma-cuma kemenangan sang kandidat
Hutang pesta kampanye adalah hutang rakyat
Harus balik lagi itu dalam waktu dekat
Dan kemungkinan harus kembali berpuluh kali lipat

Jangan terlena berpesta pora saat kampanye duhai sobat
Karena dana kampanye adalah utang rakyat
Yang harus kita kembalikan dengan rente berlipat
Pada siapapun yang menang diantara para kandidat

Antara kampanye , pesta rakyat dan hutang rakyat

Ketika para kandidat bertarung
Program kerja 100 hari hebat mereka usung
Tanpa dangdut, tanpa bagi kaus, tanpa uang masuk kantung
Apa mungkin ada suara ke kandidat itu tuk dihitung?

Namun jika ada goyang pinggul menggoda
Bagi sembako, bagi rompi, bagi rupiah tumpah ruah
Walau tanpa visi, tanpa misi, tanpa program kerja
Rakyat pasti kasih kandidat suaranya pasrah

Ini kampanye memang pesta rakyat
Mereka dikumpul, dimanja, dikasih nikmat
Dielus-elus, dikipas-kipas, lalu diikat
Agar tak lupa saatnya nanti coblos foto sang kandidat

Tapi tak kan cuma-cuma kemenangan sang kandidat
Hutang pesta kampanye adalah hutang rakyat
Harus balik lagi itu dalam waktu dekat
Dan kemungkinan harus kembali berpuluh kali lipat

Jangan terlena berpesta pora saat kampanye duhai sobat
Karena dana kampanye adalah utang rakyat
Yang harus kita kembalikan dengan rente berlipat
Pada siapapun yang menang diantara para kandidat

Antara kampanye , pesta rakyat dan hutang rakyat

Ketika para kandidat bertarung
Program kerja 100 hari hebat mereka usung
Tanpa dangdut, tanpa bagi kaus, tanpa uang masuk kantung
Apa mungkin ada suara ke kandidat itu tuk dihitung?

Namun jika ada goyang pinggul menggoda
Bagi sembako, bagi rompi, bagi rupiah tumpah ruah
Walau tanpa visi, tanpa misi, tanpa program kerja
Rakyat pasti kasih kandidat suaranya pasrah

Ini kampanye memang pesta rakyat
Mereka dikumpul, dimanja, dikasih nikmat
Dielus-elus, dikipas-kipas, lalu diikat
Agar tak lupa saatnya nanti coblos foto sang kandidat

Tapi tak kan cuma-cuma kemenangan sang kandidat
Hutang pesta kampanye adalah hutang rakyat
Harus balik lagi itu dalam waktu dekat
Dan kemungkinan harus kembali berpuluh kali lipat

Jangan terlena berpesta pora saat kampanye duhai sobat
Karena dana kampanye adalah utang rakyat
Yang harus kita kembalikan dengan rente berlipat
Pada siapapun yang menang diantara para kandidat

Antara kampanye , pesta rakyat dan hutang rakyat

Ketika para kandidat bertarung
Program kerja 100 hari hebat mereka usung
Tanpa dangdut, tanpa bagi kaus, tanpa uang masuk kantung
Apa mungkin ada suara ke kandidat itu tuk dihitung?

Namun jika ada goyang pinggul menggoda
Bagi sembako, bagi rompi, bagi rupiah tumpah ruah
Walau tanpa visi, tanpa misi, tanpa program kerja
Rakyat pasti kasih kandidat suaranya pasrah

Ini kampanye memang pesta rakyat
Mereka dikumpul, dimanja, dikasih nikmat
Dielus-elus, dikipas-kipas, lalu diikat
Agar tak lupa saatnya nanti coblos foto sang kandidat

Tapi tak kan cuma-cuma kemenangan sang kandidat
Hutang pesta kampanye adalah hutang rakyat
Harus balik lagi itu dalam waktu dekat
Dan kemungkinan harus kembali berpuluh kali lipat

Jangan terlena berpesta pora saat kampanye duhai sobat
Karena dana kampanye adalah utang rakyat
Yang harus kita kembalikan dengan rente berlipat
Pada siapapun yang menang diantara para kandidat

Antara kampanye , pesta rakyat dan hutang rakyat

Ketika para kandidat bertarung
Program kerja 100 hari hebat mereka usung
Tanpa dangdut, tanpa bagi kaus, tanpa uang masuk kantung
Apa mungkin ada suara ke kandidat itu tuk dihitung?

Namun jika ada goyang pinggul menggoda
Bagi sembako, bagi rompi, bagi rupiah tumpah ruah
Walau tanpa visi, tanpa misi, tanpa program kerja
Rakyat pasti kasih kandidat suaranya pasrah

Ini kampanye memang pesta rakyat
Mereka dikumpul, dimanja, dikasih nikmat
Dielus-elus, dikipas-kipas, lalu diikat
Agar tak lupa saatnya nanti coblos foto sang kandidat

Tapi tak kan cuma-cuma kemenangan sang kandidat
Hutang pesta kampanye adalah hutang rakyat
Harus balik lagi itu dalam waktu dekat
Dan kemungkinan harus kembali berpuluh kali lipat

Jangan terlena berpesta pora saat kampanye duhai sobat
Karena dana kampanye adalah utang rakyat
Yang harus kita kembalikan dengan rente berlipat
Pada siapapun yang menang diantara para kandidat





Kamis, 28 Agustus 2008

Konsultasi ke dokter sebelum puasa bagi pasien diabetes dan hipertensi

Bagi saudara-sadara muslim yang menderita diabetes dan/atau hipertensi dan berniat tetap menjalankan ibadah puasa, saya menyarankan jum'at besok dan sabtu (bila masih buka) konsultasi ke dokternya, terutama yang baru ketahuan penyakit tersebut tahun ini. Ada beberapa obat diabetes yang bila dimakan waktu sahur akan menimbulkan kekurangan gula darah (hipoglikemi) saat menjelang buka. Ada obat hipertensi yang mesti diatur ulang cara makannya. Lalu diet setelah berbuka juga harus tetap diatur, kebanyakan karena merasa subuh-sore tidak makan, penderita diabetes seperti balas dendam makan berlebihan malam hari. Penelitian kecil saya tahun 2003 membandingkan gula darah, asam urat, kolesterol pasien diabetes dan darah tinggi 1 minggu sebelum mulai puasa dan 1 minggu setelah puasa menunjukkan ke 3 zat itu meningkat setelah puasa. Ini menunjukkan bahwa asupan makanan justru lebih banyak saat puasa. Jadi saran saya, jumat 29-8-2008 dan sabtu 30-8-2008, konsultasikan pola diet dan aturan makan obat anda ke ahli gizi dan dokter anda.

Konsultasi ke dokter sebelum puasa bagi pasien diabetes dan hipertensi

Bagi saudara-sadara muslim yang menderita diabetes dan/atau hipertensi dan berniat tetap menjalankan ibadah puasa, saya menyarankan jum'at besok dan sabtu (bila masih buka) konsultasi ke dokternya, terutama yang baru ketahuan penyakit tersebut tahun ini. Ada beberapa obat diabetes yang bila dimakan waktu sahur akan menimbulkan kekurangan gula darah (hipoglikemi) saat menjelang buka. Ada obat hipertensi yang mesti diatur ulang cara makannya. Lalu diet setelah berbuka juga harus tetap diatur, kebanyakan karena merasa subuh-sore tidak makan, penderita diabetes seperti balas dendam makan berlebihan malam hari. Penelitian kecil saya tahun 2003 membandingkan gula darah, asam urat, kolesterol pasien diabetes dan darah tinggi 1 minggu sebelum mulai puasa dan 1 minggu setelah puasa menunjukkan ke 3 zat itu meningkat setelah puasa. Ini menunjukkan bahwa asupan makanan justru lebih banyak saat puasa. Jadi saran saya, jumat 29-8-2008 dan sabtu 30-8-2008, konsultasikan pola diet dan aturan makan obat anda ke ahli gizi dan dokter anda.

Rabu, 27 Agustus 2008

Dilema menjaga anak lelaki

Apakah harus kukekang si anak lelaki?

Selepas sekolah dasar dia mulai mencari jati diri

Saat sosok bapak tak menjadi idola lagi

Ke sosok asing dia kini berorientasi

Ada anak yang tergila-gila Valentino Rossi

Diberi motor untuk memudah-murahkan transportasi

Dimodifikasinya menjadi kuda balap lari

Tak terkendali dia melaju jadi rentan kecelakaan dan mati

Lelaki muda satunya salah kaprah artikan maskulin

Merokok bosan, ganja pun dicobain

Ganja terasa ketinggalan kini mulai lirik morfin

Uang jajan habis, jadilah pengedar kalau ketangkap malu-maluin

Masa muda ini paling asik buat gank-gank-an

Butuh pengakuan, kelompok ini sering terlibat tawuran

Dari yang tangan kosong sampai pistol digunakan

Bisa cacat si anak dan luka-lukanya membahayakan

Inilah dilema menjaga anak lelaki

Dibiarkan lepas bebas dia bisa diperjara, cacat dan mati

Dikekang ketat dia memberontak atau malah jadi banci

Kalau jadi banci, ketemu gay sadis, toh juga mati..ih, ngeri!!!

Dilema menjaga anak lelaki

Apakah harus kukekang si anak lelaki?

Selepas sekolah dasar dia mulai mencari jati diri

Saat sosok bapak tak menjadi idola lagi

Ke sosok asing dia kini berorientasi

Ada anak yang tergila-gila Valentino Rossi

Diberi motor untuk memudah-murahkan transportasi

Dimodifikasinya menjadi kuda balap lari

Tak terkendali dia melaju jadi rentan kecelakaan dan mati

Lelaki muda satunya salah kaprah artikan maskulin

Merokok bosan, ganja pun dicobain

Ganja terasa ketinggalan kini mulai lirik morfin

Uang jajan habis, jadilah pengedar kalau ketangkap malu-maluin

Masa muda ini paling asik buat gank-gank-an

Butuh pengakuan, kelompok ini sering terlibat tawuran

Dari yang tangan kosong sampai pistol digunakan

Bisa cacat si anak dan luka-lukanya membahayakan

Inilah dilema menjaga anak lelaki

Dibiarkan lepas bebas dia bisa diperjara, cacat dan mati

Dikekang ketat dia memberontak atau malah jadi banci

Kalau jadi banci, ketemu gay sadis, toh juga mati..ih, ngeri!!!

Dilema menjaga anak lelaki

Apakah harus kukekang si anak lelaki?

Selepas sekolah dasar dia mulai mencari jati diri

Saat sosok bapak tak menjadi idola lagi

Ke sosok asing dia kini berorientasi

Ada anak yang tergila-gila Valentino Rossi

Diberi motor untuk memudah-murahkan transportasi

Dimodifikasinya menjadi kuda balap lari

Tak terkendali dia melaju jadi rentan kecelakaan dan mati

Lelaki muda satunya salah kaprah artikan maskulin

Merokok bosan, ganja pun dicobain

Ganja terasa ketinggalan kini mulai lirik morfin

Uang jajan habis, jadilah pengedar kalau ketangkap malu-maluin

Masa muda ini paling asik buat gank-gank-an

Butuh pengakuan, kelompok ini sering terlibat tawuran

Dari yang tangan kosong sampai pistol digunakan

Bisa cacat si anak dan luka-lukanya membahayakan

Inilah dilema menjaga anak lelaki

Dibiarkan lepas bebas dia bisa diperjara, cacat dan mati

Dikekang ketat dia memberontak atau malah jadi banci

Kalau jadi banci, ketemu gay sadis, toh juga mati..ih, ngeri!!!

Selasa, 26 Agustus 2008

Dilema jas dokter

Ada berita bela sungkawa kemarin, bahwa listrik akan mati suri pukul 8.00-16.00 di daerah rumah sakit kami hari ini. Berhubung generator di RS hanya sanggup melayani full semua kebutuhan listrik sampai pukul 12.00, maka sebagian alat listrik yang tidak penting-penting amat dimatikan. Sialnya yang mati termasuk AC.
Sudah kutukannya dokter itu harus pakai jas putih, gak tahu ide siapa peraturan tak resmi ini dibuat. Padahal negara kita negara tropis yang kalau kemarau suhu 12.00 bisa sampai 34 derajad celcius, sehingga kalau gak pake AC basah bok, bau pengap dari jas gak kuat dilawan parfum deodoran setengah liter.
Ada ide supaya di daerah tropis yang sering listrik mati seperti kita ini dokter diijinkan pakai baju pantai yang tipis dan ngejreng...Asik juga, kali,ya?

Dilema jas dokter

Ada berita bela sungkawa kemarin, bahwa listrik akan mati suri pukul 8.00-16.00 di daerah rumah sakit kami hari ini. Berhubung generator di RS hanya sanggup melayani full semua kebutuhan listrik sampai pukul 12.00, maka sebagian alat listrik yang tidak penting-penting amat dimatikan. Sialnya yang mati termasuk AC.
Sudah kutukannya dokter itu harus pakai jas putih, gak tahu ide siapa peraturan tak resmi ini dibuat. Padahal negara kita negara tropis yang kalau kemarau suhu 12.00 bisa sampai 34 derajad celcius, sehingga kalau gak pake AC basah bok, bau pengap dari jas gak kuat dilawan parfum deodoran setengah liter.
Ada ide supaya di daerah tropis yang sering listrik mati seperti kita ini dokter diijinkan pakai baju pantai yang tipis dan ngejreng...Asik juga, kali,ya?

Dilema jas dokter

Ada berita bela sungkawa kemarin, bahwa listrik akan mati suri pukul 8.00-16.00 di daerah rumah sakit kami hari ini. Berhubung generator di RS hanya sanggup melayani full semua kebutuhan listrik sampai pukul 12.00, maka sebagian alat listrik yang tidak penting-penting amat dimatikan. Sialnya yang mati termasuk AC.
Sudah kutukannya dokter itu harus pakai jas putih, gak tahu ide siapa peraturan tak resmi ini dibuat. Padahal negara kita negara tropis yang kalau kemarau suhu 12.00 bisa sampai 34 derajad celcius, sehingga kalau gak pake AC basah bok, bau pengap dari jas gak kuat dilawan parfum deodoran setengah liter.
Ada ide supaya di daerah tropis yang sering listrik mati seperti kita ini dokter diijinkan pakai baju pantai yang tipis dan ngejreng...Asik juga, kali,ya?

Dilema jas dokter

Ada berita bela sungkawa kemarin, bahwa listrik akan mati suri pukul 8.00-16.00 di daerah rumah sakit kami hari ini. Berhubung generator di RS hanya sanggup melayani full semua kebutuhan listrik sampai pukul 12.00, maka sebagian alat listrik yang tidak penting-penting amat dimatikan. Sialnya yang mati termasuk AC.
Sudah kutukannya dokter itu harus pakai jas putih, gak tahu ide siapa peraturan tak resmi ini dibuat. Padahal negara kita negara tropis yang kalau kemarau suhu 12.00 bisa sampai 34 derajad celcius, sehingga kalau gak pake AC basah bok, bau pengap dari jas gak kuat dilawan parfum deodoran setengah liter.
Ada ide supaya di daerah tropis yang sering listrik mati seperti kita ini dokter diijinkan pakai baju pantai yang tipis dan ngejreng...Asik juga, kali,ya?

Dilema jas dokter

Ada berita bela surngkawa kemarin, bahwa listrik akan mati suri pukul 8.00-16.00 di daerah rumah sakit kami. Berhubung generator di RS hanya sanggup melayani full semua kebutuhan listrik sampai pukul 12.00, maka sebagian alat listrik yang tidak penting-penting amat dimatikan. Sialnya yang mati termasuk AC.
Sudah kutukannya dokter itu harus pakai jas putih, gak tahu ide siapa peraturan tak resmi ini dibuat. Padahal negara kita negara tropis yang kalau kemarau suhu 12.00 bisa sampai 34 derajad celcius, sehingga kalau gak pake AC basah bok, bau pengap dari jas gak kuat dilawan parfum deodoran setengah liter.
Ada ide supaya di daerah tropis yang sering listrik mati seperti kita ini dokter diijinkan pakai baju pantai yang tipis dan ngejreng...Asik juga, kali,ya?

Susahnya jaga anak perempuan

Susah nian jaman sekarang
Anak perempuan tak boleh lagi dikekang
Ke sekolah, ke les, ke mall, ke kafe dia melanglang
Berbaju ketat, rok pendek,bahu-dada rendah bikin tercengang

Sudah mati-matian si mama mewanti-wanti
Jangan ciuman nak kau kan hamil nanti
Sudah dengan tegas sang papa menggurui
Kalau selaput itu pecah kau tak laku lagi

Eh, mass media menghancurkan wanti-wanti sang mama
Use condom, katanya. safe sex katanya
Si anak jadi tak takut hamil jadinya
Klinik-klinik swasta ellite memporakporandakan pesan si papa
Hymenoraphy jualannya...jadi perawan kembali, gak masalah
Koyak-jahit selaput jadi seperti nambal kain saja

Susahnya jaga anak perempuan
Saat pesan orang tua dan pesan agama tak lagi berkesan
Terhempas media massa dan informasi on-line
Hanya tinggal papa-mama berserah pada Tuhan
Sang anak perempuan tak tercabik-cabik ganasnya pergaulan

Susahnya jaga anak perempuan

Susah nian jaman sekarang
Anak perempuan tak boleh lagi dikekang
Ke sekolah, ke les, ke mall, ke kafe dia melanglang
Berbaju ketat, rok pendek,bahu-dada rendah bikin tercengang

Sudah mati-matian si mama mewanti-wanti
Jangan ciuman nak kau kan hamil nanti
Sudah dengan tegas sang papa menggurui
Kalau selaput itu pecah kau tak laku lagi

Eh, mass media menghancurkan wanti-wanti sang mama
Use condom, katanya. safe sex katanya
Si anak jadi tak takut hamil jadinya
Klinik-klinik swasta ellite memporakporandakan pesan si papa
Hymenoraphy jualannya...jadi perawan kembali, gak masalah
Koyak-jahit selaput jadi seperti nambal kain saja

Susahnya jaga anak perempuan
Saat pesan orang tua dan pesan agama tak lagi berkesan
Terhempas media massa dan informasi on-line
Hanya tinggal papa-mama berserah pada Tuhan
Sang anak perempuan tak tercabik-cabik ganasnya pergaulan

Susahnya jaga anak perempuan

Susah nian jaman sekarang
Anak perempuan tak boleh lagi dikekang
Ke sekolah, ke les, ke mall, ke kafe dia melanglang
Berbaju ketat, rok pendek,bahu-dada rendah bikin tercengang

Sudah mati-matian si mama mewanti-wanti
Jangan ciuman nak kau kan hamil nanti
Sudah dengan tegas sang papa menggurui
Kalau selaput itu pecah kau tak laku lagi

Eh, mass media menghancurkan wanti-wanti sang mama
Use condom, katanya. safe sex katanya
Si anak jadi tak takut hamil jadinya
Klinik-klinik swasta ellite memporakporandakan pesan si papa
Hymenoraphy jualannya...jadi perawan kembali, gak masalah
Koyak-jahit selaput jadi seperti nambal kain saja

Susahnya jaga anak perempuan
Saat pesan orang tua dan pesan agama tak lagi berkesan
Terhempas media massa dan informasi on-line
Hanya tinggal papa-mama berserah pada Tuhan
Sang anak perempuan tak tercabik-cabik ganasnya pergaulan

Senin, 25 Agustus 2008

Dokter itu profesi yang terhormat tapi tidak semua dokter otomatis orang terhormat

Profesi dokter itu adalah terhormat
Dan rasa hormat itu tetap ada walau berbagai kasus malpraktek terangkat
Pengakuan hormat itu tetap terjunjung di atas mengkilat
Walau beberapa kasus asusila oknum dokter perbuat

Profesi lain banyak yang telah dicibir sebagai profesi pungli
Ada profesi lain yang dicibir pengumbar janji
Beberapa lagi dianggap profesi dimana proyek pasti dimark-up dan dikorupsi
Malah ada yang profesi yang dianggap arena jual beli kebebasan insani

Tapi enaknya profesi lain, jika ada seseorang disana yang bersih bertugas
Namanya akan termasyur dan terkenal luas
Dan rasa hormat itu disematkan tegas
Di atas kepala bedakan ia dari teman seprofesi lainnya yang buas

Sedangkan profesi dokter itu sudah dibakukan terhormat
Dan setiap dokter harus terobsesi menggapainya penuh hasrat
Karena tak otomatis setiap dokter jadi orang terhormat
Kalau tingkah lakunya selalu maksiat
Dan sebaliknya walaupun banyak dokter bikin pasiennya melarat
Profesi itu tetap dianggap terhormat

Kehormatan profesi dokter itu tidak perlu dijaga
Profesi itu tetap terhormat bagaimanapun kelakuan dokternya
Karena itu untuk menjadi orang yang terhormat juga
Setiap dokter harus bekerja melayani sesama demi kehormatan dirinya
Dan bukan demi kehormatan profesinya yang sudah diakui sejak dahulu kala

Dokter itu profesi yang terhormat tapi tidak semua dokter otomatis orang terhormat

Profesi dokter itu adalah terhormat
Dan rasa hormat itu tetap ada walau berbagai kasus malpraktek terangkat
Pengakuan hormat itu tetap terjunjung di atas mengkilat
Walau beberapa kasus asusila oknum dokter perbuat

Profesi lain banyak yang telah dicibir sebagai profesi pungli
Ada profesi lain yang dicibir pengumbar janji
Beberapa lagi dianggap profesi dimana proyek pasti dimark-up dan dikorupsi
Malah ada yang profesi yang dianggap arena jual beli kebebasan insani

Tapi enaknya profesi lain, jika ada seseorang disana yang bersih bertugas
Namanya akan termasyur dan terkenal luas
Dan rasa hormat itu disematkan tegas
Di atas kepala bedakan ia dari teman seprofesi lainnya yang buas

Sedangkan profesi dokter itu sudah dibakukan terhormat
Dan setiap dokter harus terobsesi menggapainya penuh hasrat
Karena tak otomatis setiap dokter jadi orang terhormat
Kalau tingkah lakunya selalu maksiat
Dan sebaliknya walaupun banyak dokter bikin pasiennya melarat
Profesi itu tetap dianggap terhormat

Kehormatan profesi dokter itu tidak perlu dijaga
Profesi itu tetap terhormat bagaimanapun kelakuan dokternya
Karena itu untuk menjadi orang yang terhormat juga
Setiap dokter harus bekerja melayani sesama demi kehormatan dirinya
Dan bukan demi kehormatan profesinya yang sudah diakui sejak dahulu kala

Dokter itu profesi yang terhormat tapi tidak semua dokter otomatis orang terhormat

Profesi dokter itu adalah terhormat
Dan rasa hormat itu tetap ada walau berbagai kasus malpraktek terangkat
Pengakuan hormat itu tetap terjunjung di atas mengkilat
Walau beberapa kasus asusila oknum dokter perbuat

Profesi lain banyak yang telah dicibir sebagai profesi pungli
Ada profesi lain yang dicibir pengumbar janji
Beberapa lagi dianggap profesi dimana proyek pasti dimark-up dan dikorupsi
Malah ada yang profesi yang dianggap arena jual beli kebebasan insani

Tapi enaknya profesi lain, jika ada seseorang disana yang bersih bertugas
Namanya akan termasyur dan terkenal luas
Dan rasa hormat itu disematkan tegas
Di atas kepala bedakan ia dari teman seprofesi lainnya yang buas

Sedangkan profesi dokter itu sudah dibakukan terhormat
Dan setiap dokter harus terobsesi menggapainya penuh hasrat
Karena tak otomatis setiap dokter jadi orang terhormat
Kalau tingkah lakunya selalu maksiat
Dan sebaliknya walaupun banyak dokter bikin pasiennya melarat
Profesi itu tetap dianggap terhormat

Kehormatan profesi dokter itu tidak perlu dijaga
Profesi itu tetap terhormat bagaimanapun kelakuan dokternya
Karena itu untuk menjadi orang yang terhormat juga
Setiap dokter harus bekerja melayani sesama demi kehormatan dirinya
Dan bukan demi kehormatan profesinya yang sudah diakui sejak dahulu kala


Sudah ada 3 member dokter on-line tanggal 25 Agustus 2008.

Terimakasih untuk 3 member http://dokteronline.multiply.com/ namun yang terpenting adalah interaksi antar praktisi medis, mahasiswa yang sedang belajar dan teman non medis tetapi butuh informasi klinis, terjalin secara santai di grup ini. Beberapa keuntungan blog ini antara lain:
1. Latihan menulis ilmiah bagi mahasiswa FK. Blog ini tidak akan menghakimi karya ilmiah saudara, hanya memberi masukan yang sifatnya membangun.
2. Diskusi dapat berlangsung interaktif antara medis dan bersifat santai. Bukan menjadi rahasia lagi jika teman sejawat dalam sebuah diskusi ilmiah dapat "mengadu ilmu" sedemikian hebatnya sehingga terkesan ingin saling menjatuhkan. Namun di grup ini diharapkan diskusi dapat lebih bersahabat dan terkesan sharing pengalaman klinik. Tiap dokter pasti punya variasi pendekatan mengatasi suatu penyakit dibandingkan standar pelayanan yang baku.
3. Bagi teman yang non medis, di grup ini dapat bertanya sepuas hati mengenai penyakit anda. Di Indonesia standar waktu konsultasi hanya 6 menit per pasien, itu sudah termasuk memeriksa, wawancara dan menulis resep. Harap maklum, di Singapura anda bisa puas berdiskusi dengan dokter 30-an menit tapi tarifnya memang 5-10 x tarif dokter Indonesia.

Sudah ada 3 member dokter on-line tanggal 25 Agustus 2008.

Terimakasih untuk 3 member http://dokteronline.multiply.com/ namun yang terpenting adalah interaksi antar praktisi medis, mahasiswa yang sedang belajar dan teman non medis tetapi butuh informasi klinis, terjalin secara santai di grup ini. Beberapa keuntungan blog ini antara lain:
1. Latihan menulis ilmiah bagi mahasiswa FK. Blog ini tidak akan menghakimi karya ilmiah saudara, hanya memberi masukan yang sifatnya membangun.
2. Diskusi dapat berlangsung interaktif antara medis dan bersifat santai. Bukan menjadi rahasia lagi jika teman sejawat dalam sebuah diskusi ilmiah dapat "mengadu ilmu" sedemikian hebatnya sehingga terkesan ingin saling menjatuhkan. Namun di grup ini diharapkan diskusi dapat lebih bersahabat dan terkesan sharing pengalaman klinik. Tiap dokter pasti punya variasi pendekatan mengatasi suatu penyakit dibandingkan standar pelayanan yang baku.
3. Bagi teman yang non medis, di grup ini dapat bertanya sepuas hati mengenai penyakit anda. Di Indonesia standar waktu konsultasi hanya 6 menit per pasien, itu sudah termasuk memeriksa, wawancara dan menulis resep. Harap maklum, di Singapura anda bisa puas berdiskusi dengan dokter 30-an menit tapi tarifnya memang 5-10 x tarif dokter Indonesia.

Sudah ada 3 member dokter on-line tanggal 25 Agustus 2008.

Terimakasih untuk 3 member http://dokteronline.multiply.com/ namun yang terpenting adalah interaksi antar praktisi medis, mahasiswa yang sedang belajar dan teman non medis tetapi butuh informasi klinis, terjalin secara santai di grup ini. Beberapa keuntungan blog ini antara lain:
1. Latihan menulis ilmiah bagi mahasiswa FK. Blog ini tidak akan menghakimi karya ilmiah saudara, hanya memberi masukan yang sifatnya membangun.
2. Diskusi dapat berlangsung interaktif antara medis dan bersifat santai. Bukan menjadi rahasia lagi jika teman sejawat dalam sebuah diskusi ilmiah dapat "mengadu ilmu" sedemikian hebatnya sehingga terkesan ingin saling menjatuhkan. Namun di grup ini diharapkan diskusi dapat lebih bersahabat dan terkesan sharing pengalaman klinik. Tiap dokter pasti punya variasi pendekatan mengatasi suatu penyakit dibandingkan standar pelayanan yang baku.
3. Bagi teman yang non medis, di grup ini dapat bertanya sepuas hati mengenai penyakit anda. Di Indonesia standar waktu konsultasi hanya 6 menit per pasien, itu sudah termasuk memeriksa, wawancara dan menulis resep. Harap maklum, di Singapura anda bisa puas berdiskusi dengan dokter 30-an menit tapi tarifnya memang 5-10 x tarif dokter Indonesia.

Minggu, 24 Agustus 2008

Teman sejawat medis dan mahasiswa FK boleh join

Grup ini http://dokteronline.multiply.com....dikhususkan ke praktisi medis serta mahasiswa kedokteran. Semua presentasi ilmiah mulai se-sederhana presentasi kasus mahasiswa, Telaah pustaka, penelitian deskriptif, penelitian epidemiologik sampai trial multicenter. Bisa juga joke dan pengalaman medis. Bagi masyarakat di luar medis boleh mengajukan pertanyaan di grup ini. Untuk 4 spesialisasi dasar dibuka kesempatan 3 teman SPOG, pediatric dan spesialis bedah untuk jadi admin grup ini. Syaratnya cuma 1, sanggup on-line tiap hari barang 30 menit. thanks

Teman sejawat medis dan mahasiswa FK boleh join

Grup ini http://dokteronline.multiply.com....dikhususkan ke praktisi medis serta mahasiswa kedokteran. Semua presentasi ilmiah mulai se-sederhana presentasi kasus mahasiswa, Telaah pustaka, penelitian deskriptif, penelitian epidemiologik sampai trial multicenter. Bisa juga joke dan pengalaman medis. Bagi masyarakat di luar medis boleh mengajukan pertanyaan di grup ini. Untuk 4 spesialisasi dasar dibuka kesempatan 3 teman SPOG, pediatric dan spesialis bedah untuk jadi admin grup ini. Syaratnya cuma 1, sanggup on-line tiap hari barang 30 menit. thanks

KONKER PAPDI PADANG 2008

PEMBERIAN KORTIKOSTEROID PADA DEMAM BERDARAH DENGUE MEMPERKECIL PENINGKATAN KONSENTRASI TROMBOSIT DARAH ANTARA HARI KE 5 DIBANDINGKAN HARI KE 7 DEMAM

Posma Budianto

ABSTRAK

Latar Belakang: Patogenesis dari kelainan klinis maupun laboratorium DBD menunjukkan adanya proses imunopatologis dimana virus dengue mengaktifkan mediator-mediator proinflamasi yang berakhir pada meningkatnya permeabilitas kapiler maupun peningkatan apoptosis trombosit. Adanya proses imunopatologis ini membuat beberapa peneliti mencoba memberikan kortikosteroid pada pasien DBD dengan syok dengan parameter yang dinilai adalah mortalitas. Pada penelitian ini dicoba menilai parameter lainnya yaitu kenaikan kadar trombosit darah.

Tujuan Tujuan penelitian ini untuk menilai pengaruh pemberian kortikosteroid terhadap peningkatan kadar trombosit darah pasien DBD pada hari ke 5 dibandingkan hari ke 7 sejak mulai demam.

Bahan dan Cara Kerja:. Penelitian ini adalah penelitian cohort restropectif study, dari semua status pasien yang dirawat dengan diagnosis DBD derajad 1 dan 2 di RS Myria Palembang, berusia 12 tahun atau lebih dari 1 Oktober 2007 sampai 29 Pebruari 2008. Kriteria pengambilan data: DBD derajad 1 dan 2 menurut kriteria WHO 1997; Semua pasien harus diperiksa kadar trombosit darahnya menimal 1 kali setiap harinya;Hasil trombosit yang diambil adalah konsentrasi yang terendah; Semua pasien masuk rumah sakit maksimal hari ke 5 demam dan dirawat minimal sampai hari ke 7 demam; Usia pasien minimal sudah berulang tahun ke 12; Semua pemakaian steroid yang rutin tiap hari (jenis dan dosis bebas) masuk ke dalam kriteria pasien dengan steroid. Analisis data menggunakan prograam SPSS version 15 for windows menggunakan Student t test untuk data kuantitatif, data kualitatif menggunakan chi square test.

Hasil dan Pembahasan: Didapatkan 89 pasien yang memenuhi syarat pengambilan data, dengan 59 kasus diberikan steroid dan 30 kasus tidak diberikan. Jenis kelamin dan umur kedua kelompok tidak berbeda bermakna. Trombosit hari ke 5 kelompok steroid lebih rendah dari kelompok non steroid (76203 + 5402 vs 99033 + 6080. p: 0,011). Trombosit hari ke 7 kelompok steroid lebih rendah dari kelompok non steroid ( 82305 + 6001 vs 127500+7926. p:0,000). Kenaikan trombosit hari ke 5 dibanding 7 pada kelompok steoid lebih rendah dari kelompok non steroid (8644 + 5702 vs 28466 + 8176. p: 0,048). Bias penelitian: pemberian steroid cenderung kepada kasus dengan trombosit lebih rendah. keakuratan anamnesis hari pertama demam, pemakaian obat2an anti biotik dan H2 blocker yang beragam.

Kesimpulan:Penambahan steroid pada penderita DBD drajad 1 dan 2 berpengaruh memperkecil kenaikan trombosit hari ke 5 dibandingkan hari ke 7 demam.

Latar Belakang

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue termasuk keluarga Flavivirus dengan manifestasi klinis demam mendadak, nyeri otot, nyeri sendi dan gambaran laboratorium berupa leukopenia, hemokonsentrasi dan trombositopenia.

Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia Tenggara, sedangkan insiden di Indonesia antara 6-15/100.000 penduduk dengan mortalitas telah menurun hingga 2%.1 Di RS Myria Palembang kasus TDBD dan DBD (sudah dikonfirmasi imunologis) pada tahun 2006 adalah 299 kasus rawat inap dengan kematian 1 kasus2, sedangkan tahun 2007, kasus rawat inap 830 tanpa kasus kematian3.

Patogenesis dari kelainan klinis maupun laboratorium menunjukkan adanya peran imunopatologis dimana virus dengue mengaktifkan mediator-mediator proinflamasi yang berakhir pada meningkatnya permeabilitas kapiler maupun peningkatan apoptosis trombosit. 1

Adanya proses imunopatologis ini membuat beberapa penelitian mencoba memberikan kortikosteroid pada pasien DBD dengan syok, namun belum berhasil menunjukaan kemaknaan penurunan dari mortalitas pasien. Seperti hasil analisis Panpanich et al dari Cochrane Database yang menganalisis 4 penelitian yang memberikan kortikosteroid pada pasien DBD dengan syok. 4 Namun menjadi parameter pada penelitian tersebut adalah mortalitas, yang secara etik sulit dilakukan. Untuk itu penelitian ini dilakukan untuk mencari parameter lain sebagai dasar penilaian kemajuan terapi yaitu peningkatan konsentrasi trombosit darah pada pasien DBD yang diberikan steroid dibandingkan yang tidak mendapatkan steroid.

TUJUAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

Tujuan penelitian ini untuk menilai pengaruh pemberian kortikosteroid terhadap peningkatan kadar trombosit darah pasien DBD pada hari ke 5 dibandingkan hari ke 7 sejak mulai demam.

Hipotesis nul menyatakan tidak ada pengaruh pemberian kortikosteroid terhadap peningkatan kadar trombosit darah pasien, sedangkan hipotesis alternatif menunjukkan adanya pengaruh dengan derajad kepercayaan 0,05.

BAHAN DAN CARA KERJA

Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian cohort restropectif study, dengan mengambil data dari semua status pasien yang dirawat dengan diagnosis DBD derajad 1 dan 2 di RS Myria berusia 12 tahun atau lebih dari 1 Oktober 2007 sampai 29 Pebruari 2008.

Kriteria Pengambilan Data

1. Yang dimaksud DBD adalah semua pasien yang dirawat dengan diagnosis DBD derajad 1 dan 2 menurut kriteria WHO 1997.

2. Semua pasien harus diperiksa kadar trombosit darahnya menimal 1 kali setiap harinya dengan menggunakan alat sysmex kx-21.

3. Hasil trombosit yang diambil adalah konsentrasi yang terendah dalam satu harinya.

4. Semua pasien masuk rumah sakit maksimal hari ke 5 demam.

5. Semua pasien dirawat tersebut harus dirawat minimal sampai hari ke 7 demam.

6. Usia pasien minimal sudah berulang tahun ke 12.

7. Semua pemakaian steroid yang rutin tiap hari (jenis dan dosis bebas) masuk ke dalam kriteria pasien dengan steroid.

Analisis Data

Analisis data penelitian menggunakan program SPSS version 15 for windows. Data dicatat pada formulir penelitian, kemudian data dimasukkan ke dalam komputer. Selanjutnya data dianalisis secara deskriptif dan analitik dengan menggunakan Student t test untuk data kuantitatif dan untuk data kualitatif menggunakan chi square atau Fisher exact test jika salah satu sel berjumlah kurang dari 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

Selama kurun waktu 1 Oktober 2007 sampai dengan 29 Pebruari 2008, didapatkan 89 pasien dengan kriteria diagnostik DBD grade 1 dan 2 yang memenuhi kriteria pengambilan data. Terdapat 59 kasus diberikan steroid dan 30 kasus tidak diberikan. Beberapa karakteristik kasus dijabarkan pada tabel 1.

Tabel 1. Karakteristik umum kasus


Karakteristik steroid nonsteroid p

( n = 59 ) ( n = 30 )


Jenis Kelamin 0,827 **

Laki-laki 31 15 Perempuan 28 15

Umur rerata (Tahun) 25,66 + 10.17 29,07+16,42 0,526 *

Rata-rata trombosit hari ke:

5 76203 + 5402 99033 + 6080 0,011 *

7 82305 + 6001 127500+7926 0,000 *

Selisih trombosit h 5-7 8644 + 5702 28466 + 8176 0,048 *


*Uji t, ,**Uji chi-Square

Tidak ada kasus penelitian ini yang meninggal dunia. Trombosit hari ke 5 demam pada kasus yang diberikan steroid lebih rendah secara bermakna dibandingkan kasus yang tidak diberikan steroid. Trombosit hari ke 7 demam kasus yang diberikan steroid lebih rendah secara bermakna dibandingkan kasus yang tidak diberikan steroid. Selisih trombosit hari ke 5 dan 7 demam kasus yang diberikan steroid lebih rendah secara bermakna dibandingkan kasus yang tidak diberikan steroid.

Hasil penelitian ini dimungkinkan oleh adanya kecendrungan pemberian steroid pada kasus dengan trombosit yang lebih rendah, sehingga kenaikannya juga lebih sedikit. Bias penelitian juga mempengaruhi, antara lain anamnesis hari pertama demam yang mungkin kurang akurat atau adanya obat-obatan yang menekan trombosit misalnya golongan H2 Blocker dan anti biotik.

KESIMPULAN

Penambahan steroid pada penderita DBD derajad 1 dan 2 berpengaruh memperkecil kenaikan trombosit hari ke 5 dibandingkan hari ke 7 demam.




DAFTAR PUSTAKA

1. Suhendro, Nainggolan L, Chen K, Pohan HT. Bemam berdarah dengue, dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, SImadibrata M, editor: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi keempat Jilid 1. Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2006.Halaman 1709-1713.

2. Buku Laporan Tahunan RS Myria Palembang 2006-2007

3. Buku Laporan Tahunan RS Myria Palembang 2007-2008

4. Panpanich R, Sornchai P, Kanjanaratanakorn K. Corticosteroids for treating dengue shock syndrome. Cochrane Database of Systemic Reviews 2007 Issue 4.

Makalah Konker PAPDI Palembang, 2006


PENGARUH PENAMBAHAN DEKSAMETASON DOSIS TINGGI

SAMPAI 2 HARI DALAM MENURUNKAN MORTALITAS SEPSIS, MEMPERCEPAT HILANGNYA SIRS DAN MEMPERPANJANG HARI KEMATIAN SEPSIS

Posma Budianto, Akmal Sya'roni

ABSTRACT

Background: The prevalence and the mortality rate of sepsis is still high although the adequate management had implemented. The recent studies emphasized the inflammatory cascade of sepsis, such as the use of anti-inflammatory regimen (such as dexamethasone). Schumer studied the use of dexamethasone compared with placebo, the mortality ratio was 9,3% : 38,4%.

Objectif: To determine the affect of high dose dexamethasone (3 mg / kg bw, continued 1 mg / kg bw every six hours till 2 days) add on standard therapy compared with standard therapy only in: a.sepsis mortality rate; b. the duration of SIRS’s symptom and c. the duration of mortality.

Methods: This was open randomized clinical trial with add on therapy. We estimated 16 Subjects each group. The inclusion criteria were : 15-50 years old, lived in South Sumatera Province. The exclusion criteria were: pregnant, diabetes mellitus, malignancy, adrenal gland disease, peptic ulcer, irreversible shock, coma, etc. Drop out criteria were: death before 5 hours after all sepsis therapy had done, life threatening side effect, and Subject rejected to continue the trial. All Subject were randomized in 2 groups. Each group were gave standard therapy, such as: resuscitation, antibiotics (cefotaxime 2x1g i.v, gentamisine 2x 80 mg i.v, metronidazole 3x 500 mg oral) and supportif therapy if necessary. One Group we added on dexamethasone 3 mg / kg bw, continued 1 mg / kg bw every six hours till 2 days and the other group wasn’t. We followed up all Subjects untill 28 days.

Results : We enrolled 37 Subjects, 5 Subjects drop out. Sixteen Subjects were treated with standard therapy added on dexamethasone and the other group were treated with standard therapy only. The mortality rate of dexamethasone group vs standard therapy group were 31,25% vs 50% (p = 0,280). The duration of SIRS’s symptom of dexamethasone group vs standard therapy group were 6,64 + 5,57 days vs 8,38 + 4,66 days (p=0,483). The duration of mortality of dexamethasone group vs standard therapy group were 10 + 10,39 days vs 3,88 + 3,14 (P=0,140).

Conclusions: a. The mortality rate was lower, the recovered of SIRS’s symptom was shorter and the duration of mortality was longer in dexamethasone group than the standard therapy group, even it were not significant statistically.

PENDAHULUAN

Sepsis cukup banyak terjadi, di Amerika Serikat terjadi peningkatan kejadian dari 73,6/ 100.000 (1979) ke 175,9/ 100.000 (1987). Mortalitas tinggi yaitu 30% (sepsis berat) dan 60% (syok sepsis). 1 Di Indonesia mortalitas lebih tinggi, yaitu 56,83% (yogyakarta),2 54,17% (Palembang) 3, bahkan di Solo (2004) didapatkan 83,1% Pasien sepsis meninggal.4

Suatu pengenalan dini sepsis dapat digunakan parameter-parameter systemic inflammatory response syndrome (SIRS) yang ditandai dengan dua atau lebih gejala : temperatur (> 38 ° celcius / < 36° celcius), heart rate (> 90 x / menit), respiratory rate (> 20x/menit / PaCO2 <32 mmHg),WBC (>12.000/mm3, < 4000/mm3, atau > 10% bentuk immature (WBC muda, batang). 5,6 Sepsis ditandai adanya SIRS dan dibuktikan atau diduga kuat adanya infeksi. 7,8 Bakteriemia ditandai adanya viable bakteri dalam darah. 9 Syok sepsis adalah kegagalan sirkulasi yang ditandai dengan hipotensi arterial yang persisten dan tidak dapat dijelaskan oleh sebab lain. Hipotensi diartikan tekanan darah sistolik di bawah 90 mmHg , MAP <70 mmHg, atau pengurangan tekanan darah sistolik 40 mmHg dari tekanan darah biasanya, walaupun dengan resusitasi cairan yang adekuat (minimal 1 jam) 7,8

Multiple Organ Failure melambangkan gangguan fungsi lebih 1 organ pada pasien yang penyakit akut sedemikian luas sehingga homeostasis tidak dapat dipertahankan tanpa intervensi. 10 Dapat dinilai antara lain dengan sepsis-related organ faillure assessment (SOFA) score, yang menilai : Sistem saraf pusat, glascow coma scale; Sistem homeostasis, trombosit ( dalam /mm3); Sistem traktus urinarius, kreatinin ( dalam mg/ dL ); Sistem hepatobilier, bilirubin total ( dalam mg/ dL); Sistem kardiovaskuler, penghitungan tekanan darah dan dosis penggunaan adrenergik agent; Sistem pernapasan, PaO2/FiO2 dimana FiO2 = konsentrasi oksigen inspirasi (udara kamar = 0,21). Setiap pemberian 1 liter/ menit O2 dari kanul oksigen akan meningkatkan FiO2 sebesar 4%. 11

Kaskade inflamasi dari adanya endotoksin sampai terjadinya syok sepsis digambarkan Silverman pada gambar di bawah ini. 12

Infeksi adalah istilah untuk menamakan keberadaan berbagai kuman yang masuk ke dalam tubuh manusia. Pada penyakit infeksi terjadi jejas sehingga timbulah reaksi inflamasi. Meskipun dasar proses inflamasi sama, namun intensitas tidak sama, tergantung luas jejas dan reaksi tubuh. Inflamasi akut dapat terbatas pada tempat jejas saja atau dapat meluas serta menyebabkan tanda dan gejala sistemik.13,14

Pada zaman praantibiotika definisi sepsis adalah sindroma klinik yang disertai dengan bakteri dalam darah. Sesudah era antibiotika banyak ditemukan tidak adanya bakteri dalam darah sehingga definisi sepsis berubah dan berbeda dengan bakteriemia. Timbul pendapat baru bahwa sepsis disebabkan oleh endotoksin dan eksotoksin yang dapat secara langsung menyebabkan sepsis sehingga perubahan kadar endotoksin dan eksotoksin berkorelasi dengan derajad sepsis.5,13

Masih belum memuaskannya penurunan mortalitas sepsis membuat para ahli membuat beberapa kesepakatan, dimana penegakan diagnosis lebih ditekankan lagi untuk mencegah terapi inadekuat akibat ketidakwaspadaan para klinikus akan sindroma ini. Secara ringkas strategi penatalaksanaan yang disepakati (evidence base medicine) adalah: Diagnosis dini (grade D,E) dengan cara mengidentifikasi: mikroorganisme penyebab, penyakit dasar, faktor pencetus, terlibatnya organ tubuh, melakukan biakan, serologik, pemeriksaan mikroskopis, radiografi dan pemantauan serta terapi sesuai dengan Surviving sepsis campaign guidelines for management of severe sepsis and septic shock yang dideklarasikan di Barcelona tahun 2004 . 15

Penelitian yang dipublikasikan tahun 1987 yang menyertakan 605 penderita menyimpulkan bahwa kortikosteroid (KS) dosis tinggi tidak menguntungkan..16 Lefering dan Neugebauer, melakukan meta-analisis dan menyimpulkan tidak ada bukti kegunaan KS pada sepsis, tapi tampaknya ada efek pada septikemia akibat bakteri gram negatif. 17

Penelitian yang mendukung penggunanan KS antara lain: Briegel (hidrokortison 100 mg bolus dilanjutkan 0,18 mg/kg BB /jam per-infus), terbukti dapat menurunkan kadar IL 6, IL 8 dan SOFA score pada pasien syok sepsis di hari ke 5 pemberian. 18 Annane (50 mg hidrokortison 4 kali sehari intravena ditambah fludrokortison 50 mg sehari peroral, selama 7 hari) menunjukan berkurangnya mortalitas. 19 Schumer (deksametason 3 mg/ kg berat badan bolus dan metil prednisolon 30 mg/kg berat badan) didapatkan hasil mortalitas deksametason 9,3%, metil prednisolon 11,6%, dan plasebo 38,4% 20

Deksametason dipilih karena sifat antiinflamasinya 25 kali lebih besar dari hidrokortison, dan masa paruh plasmanya 110-210 menit 21 Efek samping penggunaan KS antara lain: adrenal insufisiensi akut (demam, antralgia, mialgia, malaise) gangguan cairan dan elektrolit, hiperglikemia, kerentanan terhadap infeksi, ulkus peptikum, osteoporosis, miopati, katarak, terhentinya pertumbuhan, gangguan habitus, striae, jerawat, dan hirsutisme.22,23

TUJUAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

Tujuan penelitian ini untuk menilai penurunan mortalitas 28 hari, cepatnya hilang SIRS dan lamanya hari meninggal Pasien sepsis yang ditambahkan deksametason dalam dosis tinggi sampai 2 hari.

Hipotesis nihil ( Ho) : Penambahan deksametason dosis tinggi sampai 2 hari: a. tidak menurunkan mortalitas 28 hari, b. tidak mempercepat hilangnya SIRS dan c.tidak memperpanjang hari meninggal Pasien sepsis. Sedangkan hipotesis alternatif (H1) penambahan deksametason dosis tinggi sampai 2 hari: a. menurunkan mortalitas 28 hari, b. mempercepat hilangnya SIRS dan c.memperpanjang hari meninggal Pasien sepsis.

HipoHH

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini bersifat uji klinik acak berpembanding terbuka secara add on.

Penelitian ini dilakukan di Bangsal Penyakit Dalam FK UNSRI / RS dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2005 sampai tercapai jumlah Sampel pada kedua kelompok. Sampel penelitian ini adalah pasien baru dengan diagnosis sepsis, dari estimasi:

N = ímÖ P1 (1- P1) + P2 (1- P2) + V Ö P1 (1 - P1 )ý2

(P1 - P2) 2

= í0,84 Ö 0,1275 + 0,2475 + 1,96 Ö 0,21ý2

0,09

= 15,6 ( dibulatkan menjadi 16 Sampel ).

Keterangan:

- N = Besarnya jumlah Sampel masing-masing kelompok.

- V = 1,96 ( nilai standar untuk derajad kepercayaan 95%, a = 0,05).

- m = 0,84 ( nilai standar untuk kekuatan / power 80%).

- P1 = Target sukses kelompok dengan deksametason = 85%.

- P2 = Target sukses kelompok dengan plasebo = 55%.

- P1 = (P1+P2) / 2.

Penyertaan Subjek : laki-laki dan wanita usia 15-50 tahun, bertempat tinggal di Propinsi Sumatera Selatan dengan alamat yang lengkap dan jelas, bersedia mengikuti penelitian dengan menandatangani inform concent oleh penderita (kalau kesadaran kompos mentis, glascow coma scale> 13) dan oleh keluarga kalau kesadaran menurun (GCS <13).

Subjek yang ditolak : wanita hamil, memiliki penyakit adrenal/adrenalectomy, keganasan, diabetes melitus, ulkus peptikum, penyakit jantung kongestif, psikosis, osteoporosis, herpes zoster, HIV, dalam 2 minggu terakhir dalam pengobatan KS, hemorrhagic shock, luka bakar, miokard infark, gagal ginjal kronik, kegagalan hati/ radang hati kronis, intubasi endotrakeal,trauma kapitis/medula spinalis, syok sepsis irreversibel, koma (GCS 3).

Subjek dikeluarkan: meninggal dunia < 5 jam setelah penatalaksanaan sepsis secara lengkap, menolak melanjutkan penelitian, terjadi efek samping berat (diduga akibat deksametason).

Cara kerja: pada semua Pasien yang memenuhi kriteria penyertaan dilakukan : anamnesis dan pemeriksaan fisik, terutama yang memenuhi kriteria SIRS, lalu diberikan inform consent.

Perlakuan terhadap subjek penelitian:

1. Semua Pasien dilakukan pemeriksaan laboratorium/ penunjang untuk menunjang diagnosis dan menghitung SOFA score.

2. Semua Pasien diberikan terapi dasar, seperti: resusitasi cairan, oksigen 3 L/menit,6 nutrisi: energi (30-40 kcal/kg/hari), protein (1-1,5 g/kg /hari).24 bila Pasien GCS < 13 diberikan diet cair 1500 kalori, terapi suportif,15 profilaksis stress ulcer dan tromboemboli, 15 follow up tanda vital perjam, intake-output dan keluhan perhari.

3. Setelah pemeriksaan laboratorium, pasien diacak dalam kelompok terapi baku saja (K1) dan kelompok terapi baku yang ditambahkan deksametason (K2). Lalu diberikan:

· Antibiotika: cefotaxime 2 x 1 gam i.v ditambah gentamisin 2 x 80 mg i.v dan metronidazol 3 x 500 mg oral selama 7 hari pada kedua kelompok. 6 Pada Pasien dengan kreatinin > 2 mg/dl, gentamisin ditunda dahulu.

· Pemberian deksametason 3 mg/ kg BB dalam 100 cc NaCl 0,9% drip selama 30 menit dalam NaCl 100 cc dilanjutkan 1 mg/kbBB bolus pelan-pelan, tiap 6 jam sampai 48 jam pada K2.20

4. Pada hari kedua dilakukan pemeriksaan kadar gula darah ulang dan elektrokardiografi untuk evaluasi efek samping obat.

5. Bila ditemui efek samping yang berat, seperti ulkus peptikum akut, hiperglikemia akut, hipokalemia, pemberian deksametason dihentikan dan dilakukan tindakan mengatasinya.

6. Jika setelah 7 hari SIRS belum hilang, perbaikan klinis ada, antibiotika diteruskan. SIRS menetap/ memburuk, berikan antibiotika sesuai hasil kultur + tes resistensi, atau jika hasil kultur steril , penggantian antibiotika lain/ dikonsultasikan ke Pembimbing substansi penelitian. Bila SIRS hilang antibiotika dihentikan.

7. Penelitian berakhir bila Pasien meninggal dunia sebelum 28 hari follow up atau setelah menjalani follow up 28 hari walaupun gejala SIRS masih ada.

8. Bila sebelum 28 hari setelah penatalaksanaan Pasien telah hilang gejala SIRS, Pasien dipulangkan dan di-follow up di Poliklinik Subbagian Tropik Infeksi Penyakit Dalam RSMH sampai 28 hari paska diagnosis sepsis ditegakkan.

Parameter keberhasilan: sembuh, bila < hari ke 28: kesadaran compos mentis, tanda SIRS hilang (minimal 3 hari berturut-turut). Sequele, bila dalam 28 hari perawatan masih terdapat gejala SIRS.

Data dimasukkan ke dalam program SPSS versi 11,0 for window dan dianalisis secara deskriptif dan analisis.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini berlangsung bulan Maret- Desember 2005 dan didapat 37 Pasien sesuai dengan kriteria penyertaan dan penolakan, namun 5 Pasien dikeluarkan (13,5%). Pasien yang tetap masuk dalam penelitian adalah 32 orang (16 orang per kelompok).

Secara keseluruhan persentasi Subjek laki-laki 53,13%. Hasil ini sesuai dengan penelitian Silva yaitu 57.6% dari seluruh Pasien sepsis adalah laki-laki 25, berbeda dengan Arifin di Solo yang melaporkan kejadian lebih banyak pada perempuan (57%)4. Pada kedua kelompok, rerata umur laki-laki 38,41 + 11,05 lebih tua dari rerata umur perempuan 34,87 + 9,53 (p = 0,342). Berbeda dengan Martin yang melaporkan sepsis cenderung terjadi pada usia yang lebih lanjut pada perempuan, yaitu rata-rata pada usia 62.1 tahun dibandingkan 56.9 tahun pada laki-laki. 26

Tabel 1. Karakteristik umum subjek penelitian


Karakteristik Kelompok 1 Kelompok 2 p

( n = 16 ) ( n = 16 )


Jenis Kelamin 0,723 ***

Laki-laki 8 (50%) 9 (56,25%)

Perempuan 8 (50%) 7 (43,75%)

Umur rerata (Tahun) 37,94 + 9,42 35,56+11,40 0,526 *

Berat Badan Relatif 0,719**

Underweight 8 (50%) 9 (56,25%)

Normoweight 7 (43,75%) 6 (37,5%)

Overweight 1 (6,25) 1 (6,25%)


*Uji t, **Uji Fischer, *** Uji chi-Sguare

Pada penelitian ini 53,13% Pasien adalah underweight, ini sesuai dengan kepustakaan yang mengatakan bahwa BBR underweight berhubungan erat dengan meningkatnya morbiditas dan mortalitas.27 Mc.Clave menyebutkan Pasien yang kurang kalori-protein kecenderungannya untuk menjadi infeksi nasokomial dan sepsis adalah 2,5 kali daripada yang tidak.28

Tempat infeksi terbanyak adalah kelainan paru, sedangkan hasil kultur dan tes resistensi kuman kebanyakan positif adalah bakteri gram negatif. Tempat infeksi terbanyak adalah kelainan paru. Hasil ini sesuai dengan penelitian Widodo (45%)29, Hugonnet (47%)9.

Hasil kultur dan test resistensi berdasarkan kelompok kuman yang terbanyak adalah bakteri gram negatif (16,66%).Hal yang sama dilaporkan Widodo29.

Rerata SOFA score K1 2,75 + 2,294 sedangkan pada K2 2,81 + 2,167 (P=0,973). Sebaran jumlah SOFA score subjek penelitian antara kedua kelompok tidak berbeda bermakna. Bilevecius melaporkan median SOFA score dari Pasien dengan kriteria SIRS, sepsis, sepsis berat dan syok sepsis berturut-turut :3, 4, 7, 5 dan 8.30

Pada K1 mortalitas 50%, pada K2 mortalitas 31,25% (p = 0,280). Kematian pada K1 terjadi pada rerata hari ke 3,88 + 3,14, pada K2 rerata hari ke 10 + 10,39 (P= 0,483). Schumer melaporkan pemberian deksametason dibandingkan plasebo mortalitasnya 9,3% dibanding 38,4 % 10.Rerata hari meninggal kedua kelompok tidak berbeda bermakna sama seperti dilaporkan Yildiz median lamanya hari meninggal KS dan non KS adalah 5 hari dan 5,5 hari.31

Pada K1 hilangnya SIRS pada rerata hari ke 8,38 + 4,66 sedangkan K2 hilangnya SIRS pada rerata hari ke 6,64 + 5,57. Secara statistik tidak ada perbedaan bermakna hari hilangnya gejala SIRS pada kedua kelompok. Hampir sama dengan Yildiz yang melaporkan median lama rawat Pasien sepsis yang diberikan KS dan tidak adalah 14 hari dan 13 hari.31

Efek samping pada K1 mual 12,5%. Pada K2, efek samping mual (12,5%), nyeri injeksi obat (75%) dan dugaan infeksi sekunder1 (6,25%). Efek samping secara statistik bermakna (p= 0,00), namun jika nyeri injeksi obat diabaikan, menjadi tidak bermakna. (p= 1,00). Efek samping tersebut juga dinilai tidak bermakna oleh penelitian Hoffman.32

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan penelitian ini: penambahan deksametason dosis tinggi sampai 2 hari secara klinis dapat menurunkan mortalitas 28 hari, mempercepat hilangnya SIRS dan memperpanjang hari meninggal Pasien sepsis, walaupun secara statistik tidak bermakna.

Sebagai saran : penambahan deksametason dosis tinggi sampai 2 hari dapat dipertimbangkan untuk menurunkan mortalitas pada penatalaksanaan sepsis yang sesuai kriteria penyertaan dan penolakan penelitian ini. Dipertimbangkan dilakukan penelitian lain dengan dosis deksametason lainnya, waktu pemberian yang lebih panjang ataupun dengan Subjek penelitian dengan kriteria penyertaan dan penolakan lain untuk mendapatkan penatalaksanaan sepsis yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Bochud PY, Calandra T.Clinical review: pathogenesis of sepsis: new concepts and implications for future treatment, in: BMJ Volume 326 1 February 2003. page:262-266

2. Subronto YW, Loehoeri S. Profil pasien yang didiagnosis dengan septicemia di Bagian Penyakit Dalam RS Dr. Sarjito tahun 2002, dalam : Kumpulan Abstrak KOPAPDI XII Manado 2003.

3. Sya’roni A. Pendekatan dalam penatalaksanaan sepsis, dalam: Salim EM, Kurniaty N, Irawan R, Lumbantoruan I, Huda S, Asrizal, Editor: Makalah Lengkap Konferensi Kerja V PERALMUNI, Palembang 2003. Lembaga Penerbit Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UNSRI/RSMH Palembang. Halaman: 83-88.

4. Arifin A dan Hermawan AG. Prevalensi sepsis di RSUD dr. Moewardi Surakarta tahun 2004, dalam: Hermawan AG, Pramana TY dan Prasetyo DH, editor: Kumpulan Makalah Lengkap Kongres Nasional PETRI XI, PERPARI VII, PKWI VIII, PIT II PAPDI Cabang Surakarta. 2005. Halaman 105-110.

5. Pohan HT. Penangan sepsis secara paripurna, dalam: Acta Medica Indosiana 2003, vol. XXXV (suppl 1) : S19-23.

6. Sya’roni A. Sepsis, dalam: Salim EM, Hermansyah, Suyata, Sukandi E, Libriansyah, Suprianto I, editor: Standar Profesi Ilmu Penyakit Dalam. Lembaga Penerbit Ilmu Penyakit Dalam. Palembang.2002. Halaman:23-25.

7. Bone RC, Balk RA, Cerra FB, Dellinger RP, Fein AM, Knaus WA et al. Accp/ sccm consensus conference: definition for sepsis and organ failure and guidelines for the use of innovative therapies in sepsis, in: Chest 101.1992: Page 1644-1655

8. Levy MM, Fink MP, Marshall JC, Abraham E, Angus D, Cook D, et al. 2001 SCCM/ESICM/ACCP/ATS/SIS international sepsis definitions conference,in: Crit Care Med 2003 Vol. 31, No. 4

9. Hugonnet S, Sax H, Eggimann P, Chevrolet JC, and Pittet D. Nosocomial bloodstream infection and clinical sepsis in :Emerging Infectious Diseases , Vol. 10, No. 1, January 2004,page:76-81

10. Munford RS. Severe sepsis and septic shock, in: Kasper DL, editor: Harrison’s Principles of Internal Medicine 16 th. Edition. McGraw-Hill Company Inc.2005. Page:1606-1612.

11. Meisner M, Tschaikowsky K, Palmaers T and Schmidt J. Comparison of procalcitonin (PCT) and c-reactive protein (CRP) plasma concentrations at different SOFA scores during the course of sepsis and MODS,in:Crit care 1999.vol 3 no 1. Page: 45-50.

12. Silverman MH and Ostro MJ. Bacterial Endotoxin in Human Disease. Available from email: investorrelations@xoma.com

13. Hermawan AG. Pendekatan patobiologi reaksi inflamasi pada sepsis, dalam: Hermawan AG, Pramana TY, Prasetyo DH, editor: Kumpulan Makalah Lengkap Kongres Nasional PETRI XI, PERPARI VII, PKWI VIII, PIT II PAPDI Cabang Surakarta. Solo. UNS Press.2005. Halaman:91-96

14. Natanson C, Hoffman WD, Suffredini AF, Eichacker PQ and. Danner RL. Selected treatment strategies for septic shock based on proposed mechanisms of pathogenesis,in: Ann Intern Med. 1994;120: page: 771-783

15. Dellinger RP, Carlet JM, Masur H, Gerlach H, Calandra T, Cohen J et al. Surviving sepsis campaign guidelines for management of severe sepsis and septic shock, in: Crit Care Med 2004 Vol. 32, No. 3: page 858-873.

16. Veterans Administration Systemic Sepsis Cooperative Study Group. Effect of high-dose glucocorticoid therapy on mortality in patients with clinical signs of systemic sepsis, in: N Engl J Med 1987 Sep 10; 317, page:659-665. (ABSTRACT)

17. Lefering R, Neugebauer EA. Steroid controversy in sepsis and septic shock: a meta-analysis, in: Crit Care Med. 1995 Jul;23(7):1294-303 ( ABSTRACT)

18. Briegel J, Jochum M, Gippner C and Thiel M. Immunomodulation in septic shock: hydrocortisone differentially regulates cytokine responses, in: J Am Soc Nephrol 12, 2001: S70–S74

19. Annane D, Sébille V, Charpentier C, et al. Effect of treatment with low doses of hydrocortisone and fludrocortisone on mortality in patients with septic shock,in: JAMA. 2002;288:862-871.

20. Schumer W Steroids in the treatment of clinical septic shock, in: Ann Surg. 1976 Sep;184(3):333-341.(ABSTRACT)

21. Schwertz D. Pharmacology of the glucocorticosteriods, available from: http://www.uic.edu/ classes/pcol/ pcol331/dentalhandouts2005/dentlecture51.pdf.

22. Schimmer BP and Parker KL. Adrenocorticotropic hormone;adrenocortical steroid and their synthetic analogs; inhibitors of the synthesis and action of adrenocortical hormones, in: Hartman JG, Limbird LE and Gilman AG,editors: Goodman and Gilman’s The Pharmacological Basis of Therapeutics 10 th. Edition. Mc. Graw-Hill. 2001.Page: 1649-1677.

23. Baratawidjaja KG. Imunologi dasar edisi.5. Balai Penerbit FK UI. Jakarta. 2002. Halaman: 380-383.

24. Hill GL.Buku ajar nutrisi bedah. C V Liary Cipta Mandiri. Jakarta. 2000. Halaman 84-89, 106-116

25. Silva E, Pedro MA, Sogayar ACB, Mohovic T, Silva CLO, Janiszewski M et al Brazilian sepsis epidemiological study (bases study), in: Critical Care 2004, 8:page: R251-R260

26. Martin GS., Mannino DM, Eaton S and Moss M. The epidemiology of sepsis in the United States from 1979 through 2000, in: The New England Journal of Medicine Volume 348 Number 16 April 17, 2003: page:1546-1554

27. Luder E and Alton I. The underweight adolescent in: Stang J, Story M (editors) Guidelines for Adolescent Nutrition Services (2005) 93, available from: http://www.epi.umn.edu/let/pubs/adol_book.shtm

28. McClave SA, Mitoraj TE, Thielmeier KA and Greenburg RA. Differentiating subtypes (hypoalbuminemic vs marasmic) of protein-calorie malnutrition: incidence and clinical significance in a university hospital setting ,in: Journal of Parenteral and Enteral Nutrition, Vol 16, Issue 4, 1992. page: 337-342.

29. Widodo D. Antimicrobial treatment in management of severe infection and sepsis, dalam: Workshop Sepsis Kongres Nasional PETRI XI, PERPARI VII, PKWI VIII, PIT II PAPDI Cabang Surakarta. 2005

30. Bilevicius E, Dragosavac D, Dragosavac S, Araújo S, Falcão ALE and Terzi RGG. Multiple organ failure in septic patients, in: BJID 2001; 5 (June): page: 103-110

31. Yildiz O, Anay MD, Aygen B, Güven M, Timur FK and Tutus A. Physiological-dose steroid therapy in sepsis Turkey critical care 2002, 6: page:251-259

32. Hoffman SL, Punjabi NH, Kumala S, Moechtar MA, Pulungsih SA, Rivai AR et al.. Reduction of mortality in chloramphenicol-treated severe typhoid fever by high-dose dexamethasone, in: The New England Journal of Medicine Volume 310, Number 2, January 12, 1984.Page: 82-88.